Thursday, April 23, 2015

Jalang - belajar dari jalan

Senin itu, 20 April 2015.
aku menaiki kereta yang penuh dan sangat sesak, bahkan lebih sesak daripada biasanya.
Aku berdiri entah dimana karena yang aku ingat hanya kedua tanganku terlipat sampai dada dan tas ku sebagai bantalannya.

saat itu aku memohon pada Tuhan,
"Tuhan, plisss cukup dua kali aja aku di buat sesak seperti ini dan dengan keadaan seperti ini, juga kasihani aku Tuhan, jangan biarkan aku berada dalam kondisi ini lagi"
aku bahkan tidak dapat bergerak tetapi dapat berpindah berkat dorongan banyak orang
kemudian diriku yang lain berkata pada diriku sendiri,
"Kamulah yang menghendaki keadaan ini, sehingga kamu berada di himpitan banyak orang seperti sekarang. jika kamu ingin keluar maka keluarlah namun jika kamu tidak keluar juga maka jangan mengeluh pada Tuhanmu"
jika saja aku tidak keluar dan terus terjebak didalam kereta mungkin banyak orang yang akan aku salahkan termasuk Tuhan, melupakan diri sendiri padahal aku juga bertanggung jawab atas kebaikan diriku sendiri
lalu bagaimana dengan kita semua diluar sana yang terjebak dalam situasi yang tidak kita inginkan??

mengeluh bukan satu satunya melepas masalah karena hal yang paling penting adalah memulai untuk mengatasinya.

satu hal yang aku suka dari keadaan itu adalah "hanya aku yang berhak atas diriku" jika aku memilih sakit maka sakitlah aku dan jika aku memilih melepaskan sakit itu maka aku akan mengetahui jawabannya segera, segera itu lebih baik daripada menunggu orang lain yang memberikan ketenangan yang kita harapkan"

Tersenyumlah sekarang jiwaku (Shovia Okta Primada)