Tuesday, March 3, 2015
Tentang Kamu
Aku pernah mendengar jika kau merindukan seseorang, teriaklah kepada angin lepas maka angin itu akan membawa rindumu itu pada orang yang kau rindui.
tetapi bukan itu yang aku lakukan, siang itu aku sangat ingit men-delete nomor handphone mu dari ponselku. kala itu kita bagaikan untaian jaring laba-laba yang robek dan kehilangan simpul yang mengikatnya juga bagaikan potongan puzzle yang terpisah satu sama lain.
Sialnya, muridku kelas X bertanya padaku "ibu, yang ini bagaimana?" dengan cepat aku menyimpan ponselku masuk kedalam tas dan tidak sengaja aku tekan call pada nomermu. setelah selesai jam mengajar aku memutuskan pergi ke kampus untuk bimbingan skripsiku, sialnya aku baru menyadari setelah makanan yang aku pesan datang "Sial, apa yang aku lakukan" dia menelphone balik dan sengaja tidak aku jawab kemudia dia mengirimi aku pesan singkat "hai.. apa kabar kamu? kamu baik-baik saja? ada apa menelphone?"
itu sangat mengganggu selera makanku sehingga tidak ada nasi yang berhasil aku telan "ohh tuhan kubur aku sekarang, aku malu"
dengan tenang aku membalas pesan itu, "maaf, tadi tidak sengaja" hal itu berlalu lama hingga aku benar-benar mendelete nomormu, walaupun aku masih sangat hafal setiap angka yang berbaris membentuk nomormu itu :(:(
hari dimana aku menerima kerja adalah hari dimana aku yakin bahwa aku telah melakukan hal yang benar untuk melupakanmu baik-baik
aku sudah berdamai dengan diriku sendiri, aku pikir ini saatnya untukku membuka lembaran baru..
aku memang beberapa kali dekat dengan laki-laki, yang pertama adalah seniorku dikampus kemudian teman lamaku, mereka memang sangat baik tetapi tetap saja rasanya memang belum siap memulai lagi dengan orang baru, kesibukanku dikantor dan disekolah adalah jurus khususku agar aku tak memiliki waktu untuk mengingatmu, sampai akhirnya malam itu kau datang lewat pesan singkat "kamu apa kabar disana?" yang seketika meluluh lantakan bangunan besar nan kokoh yang sudah susah payah aku bangun, tanpa balasan aku berlalu tidur.
keesokan harinya aku bahkan tak ingat akan pesan tersebut, terlebih siapa yang mengirimkannya.
disela-sela break time ponselku berdering, walaupun nomormu telah kuhapus dengan susah payah tetap saja aku masih jelas ingat bahwa panggilan itu dari nomormu
dengan ragu-ragu aku menjawabnya
aku : ha.. hallo
kamu : hai apa kabar?
aku : aku baik
kamu : Syukurlah, kamu dimana?
aku : aku dikantor, ada apa?
kamu : kamu udah kerja?
aku : iya
kamu : aku ganggu gak?
aku : hmmm (suara pak islah terdengar "sovi, tolong booking meeting room ya" ku jawab pelan "oke, pak" kemudian ku jawab singkat) iya sedikit #sebenarnya kau mengganggu sangat banyak, kau datang tiba-tiba kedalam hidupku yang telah lama damai sejak kau porak-porandakan dengan kata "kamu terlalu baik untuk aku"
lalu dia membalas "oke, nanti malem aku telp lagi"
kemudian perasaanku berkecambuk antara penasaran dan jengkel dan menebak-nebak ada apa dengan dia, kemudian dia lebih sering mengirimi aku pesan singkat, isinya adalah
"aku mau minta maaf"
"aku tau aku salah"
"aku gak minta kamu maafin aku, aku cuma mau bilang maaf"
"aku udah coba lupain kamu, tapi kamu selalu dateng"
"aku mau memperbaiki kesalahan aku"
"cuma kamu yang cintai aku tulus, aku minta maaf"
saat itu aku cuma punya dua pilihan, pilihan pertama adalah memaafkan kamu dan membiarkan kamu memperbaikinya dengan orang lain dan pilihan kedua adalah tetap memaafkanmu dan mulai lagi setengah perjalanan kita yang terputus kala itu, dan aku memilih pilihan kedua, memaafkan dan menerimamu kembali.
kamu masih laki-laki yang sama, laki-laki yang aku sukai jauh sebelum aku melihatmu kemudian samar-samar dari kejauhan aku melihatmu setengah tersenym dengan T-Shirt belang berwarna hijau kesukaanku, kemudian entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta, dengan sebenar-benarnya jatuh dan mencinta
aku mencintai caramu menuntun aku melewati escalator kemudian membawa aku ketempat makan dan membiarkan aku tidak menyentuh sama sekali makananku, aku mencintai caramu menggandeng tangganku kemudian berkata "ini sudah digenggam" kemudian tersenyum lagi kearahku hingga aku tertunduk malu
aku mencintai setiap suara, perkataan, bentuk tubuh dan caramu menyentuh dan mencintaiku
rasanya masih tetap sama dan aku selalu yakin akan hal itu.
kau masih laki-laki yang sama sayang, seberapapun jedah waktu perpisahaan kita, kita selalu menjadi kita
bukan waktu yang akan mengetahui bagaimana akhir kita, tetapi kita sendiri (aku, kamu)
semoga Tuhan selalu merestui langkah kaki kita, sehingga jika perpisahan itu tetap datang maka biar perpisahaan itu berarti waktunya pulang kepada Tuhan....
Aku mencintaimu Panggih Tri Santoso.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment